Batu Empedu, Bersembunyi di Balik Perut Buncit

Sebagian besar orang merasa tidak percaya diri jika bentuk perutnya buncit. Perut buncit selain dapat mengganggu penampilan, juga dapat menjadi gambaran bersarangnya berbagai macam penyakit yang berbahaya dan fatal. Selama ini terkesan ada perbedaan cara berpikir antara orang-orang yang hidup di pedesaan dengan orang kota.

Orang yang hidup di pedesaan biasanya akan menganggap jika orang yang gemuk, terutama yang perutnya buncit, itu pertanda bahwa ia sudah makmur, kaya dan sejahtera. Tapi tidak begitu bagi mereka yang tinggal di kota. Mereka bisa mengakses banyak informasi melalui internet, termasuk informasi kesehatan. 

Bagi orang yang hidup di kota, perut buncit justru menjadi aib atau sesuatu yang membuat merasa malu dan tidak percaya diri. Apalagi, jika selama ini perut buncit sering dihubungkan dengan penyakit-penyakit berbahaya seperti penyakit jantung, diabetes, hipertensi, stroke hingga mendengkur.

Saat ini, banyak praktisi kesehatan yang mengemumakakan fakta bahwa dibalik perut buncit dengan lemak yang berlebihan dan menggelambir, sangat besar kemungkinan bersembunyi batu empedu.

Resiko terjadinya batu empedu pada perut buncit bahkan bisa mencapai dua kali lebih besar daripada mereka yang memiliki perut rata dan berat badan ideal. Kemungkinan batu empedu terjadi juga semakin besar pada wanita yang memiliki badan gemuk yang sudah berusia di atas 40 tahun serta jarang berolahraga.

Batu Empedu, Bersembunyi di Balik Perut Buncit

Penyebab utama munculnya batu empedu adalah obesitas (kelebihan berat badan) atau kegemukan. Hal ini disebabkan Karena batu empedu adalah batu yang ada di dalam saluran empedu. Batu tersebut terbentuk oleh kolesterol yang ada di dalam cairan empedu. Orang - orang yang gemuk lebih bisa memproduksi kolesterol yang berlebih sehingga jika tidak di imbangi dengan penyerapan yang seimbang maka kemungkinan terjadinya batu empedu menjadi besar.

Apa bila dibandingkan antara wanita dan laki - laki, maka wanita biasanya memiliki resiko yang lebih besar hingga dua kali lipat terkena batu empedu. Maka dari itu, untuk Kamu yang berjenis kelamin wanita harus lebih berhati - hati terutama dalam hal mengontrol pola makan agar tidak mengalami kenaikan berat badan.

Menurut beberapa penelitian yang pernah dilakukan, terjadinya kenaikan berat badan sedikit saja maka peningkatan resiko batu empedu juga akan meningkat. Oleh karena itu, Kamu harus pintar – pintar dalam mengatur dan menjaga berat badan.

Dan yang cukup mengherankan, batu empedu tidak hanya menyerang orang – orang tua atau dewasa, tapi juga anak - anak dan remaja yang mengalami obesitas memiliki kemungkinan besar terjangkit batu empedu.

Mereka juga sama - sama mempunyai resiko yang besar untuk terkena batu empedu dibandingkan kawannya yang memiliki berat badan ideal. Dalam sebuah studi dan penelitian yang dilakukan di California, AS, banyak ditemukan anak yang berusia antara 10 - 19 tahun dengan berat badan di atas rata - rata. Mereka mempunyai 8 kali potensi yang lebih besar terkena batu empedu dibandingkan anak - anak atau remaja yang memiliki berat badan ideal. 

Selain diri Kamu sendiri, buah hati dan orang-orang yang Kamu sayangi juga harus diperhatikan. Jangan sampai mereka dibebaskan mengonsumsi makanan apapun karena nafsu makan yang tak terkendali dan akhirnya menjadi obesitas, sama halnya dengan membiarkan batu - batu empedu terjadi di saluran empedunya.

Yang perlu diperhatikan juga, sebagian besar pasien yang terkena batu empedu ini sering kali tidak menyadari kalau dirinya telah terjangkit penyakit batu empedu. Tidak ada gejala jelas yang diperlihatkan oleh seorang yang terjangkit penyakit batu empedu.

Tapi, dari beberapa yang pernah terjadi, gejala batu empedu bisa seperti perut yang sering merasa mual, kembung, ingin muntah, dan sering mengalami perasaan kurang nyaman setelah mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung lemak.

Dan jika terjadi komplikasi, maka rasa nyeri yang dirasakan akan terasa sekali. Oleh karena itu, jika Kamu merasakan gejala - gejala tersebut mulai timbul, sebaiknya segera periksa diri ke dokter untuk ditangani lebih lanjut. Jangan sampai diabaikan berlarut - larut karena hal tersebut akan semakin memperparah kondisi kesehatan Kamu.

Penyakit Yang Disebabkan Oleh Perut Yang Buncit

Penyakit Yang Disebabkan Oleh Perut Yang Buncit

Perut buncit tidak hanya berdampak pada penampilan fisik yang terlihat oleh mata, tapi juga menyebabkan risiko kesehatan yang cukup tinggi. Ahli endokrin metabolik dari Rumah Sakit Husada, Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp. PD, KEMD, FACE, menyebutkan penderita obesitas sangat rentan dengan risiko terjangkit penyakit, dan pada akhirnya harapan hidup menjadi berkurang. Inilah ancaman - ancaman yang bersembunyi di balik perut buncit dan lipatan lemak di perut Kamu.
Penyakit Jantung

Perut buncit berkaitan dengan penyakit jantung karena pada laki – laki yang mengalami obesitas ditemukan kecenderungan hipertensi atau darah tinggi, tingkat trigliserida yang tinggi, dan turunnya kadar kolesterol HDL (kolesterol baik). Beberapa bukti yang telah menunjukkan bahwa obesitas dapat menyebabkan penebalan dinding ventrikel kiri pada jantung. Penebalan dinding ini lama - kelamaan dapat memicu masalah dan penyakit pada jantung. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan gangguan pada pompa jantung sehingga tidak bisa berfungsi normal.

Obesitas juga dapat berkaitan dengan sindrom metabolik, artinya gangguan metabolisme yang dapat menyebabkan penumpukan sejumlah molekul lemak sehingga menyebabkan arteri dan vena menjadi lebih sempit. Akibatnya, aliran darah dari dan ke jantung berkurang serta menyebabkan organ tersebut bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. “Kondisi seperti ini dapat memicu terjadinya kondisi fatal yang biasa kita sebut dengan serangan jantung,” kata Prof. Sidarta.

Diabetes Mellitus Tipe 2

Kenaikan berat badan mulai dari 5 hingga 10 kg dari berat badan yang sehat dapat meningkatkan risiko Kamu terkena penyakit diabetes mellitus tipe 2 sebesar dua kali lipat dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami kelebihan berat badan atau memiliki berat badan yang ideal. Diketahui lebih dari 80% penderita diabetes menderita kelebihan berat badan ataupun obesitas. “Jadi bila Kamu mulai bermasalah dengan berat badan yang terus naik, ada baiknya Kamu segera berusaha menurunkannya. Jangan sampai berat badan Kamu jadi tidak terkontrol dan semakin membengkak,” tegas Prof. Sidarta.

Diabetes mellitus tipe 2 merupakan penyakit diabetes yang hanya diderita oleh orang dewasa dan disebabkan karena kelebihan berat badan. Tidak seperti penderita diabetes mellitus tipe 1, tubuh penderita diabetes mellitus tipe 2 masih mampu menghasilkan insulin. Akan tetapi, jumlah insulin yang diproduksi tidak dapat memenuhi kebutuhan karena ada komplikasi yang disebabkan oleh kondisi yang dipicu oleh kelebihan berat badan, contohnya seperti tingginya kadar lemak darah (baik kolesterol maupun trigliserida).

Stroke

Stroke

Karena berkaitan dengan pola makan yang mengandung lemak yang tinggi, hipertensi, dan kurangnya aktifitas fisik, obesitas dinilai sebagai faktor resiko sekunder yang dapat memicu stroke. Serangan stroke terjadi apabila pasokan darah ke suatu bagian otak tiba - tiba terganggu atau tidak lancar. Aliran darah yang kurang dalam jaringan otak menyebabkan sel - sel saraf di otak rusak karena beberapa reaksi biokimia yang dapat merusak atau mematikan. 

Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang diatur oleh jaringan itu. Jika penderita bisa selamat dari kematian pun, risiko yang besar dan fatal pun tetap dapat mengancam, contohnya seperti kelumpuhan anggota badan, hilangnya seluruh atau sebagian ingatan, hingga hilangnya kemampuan bicara.

Kanker

Para ahli telah menghimbau bahwa kelebihan berat badan mungkin dapat juga memicu kanker. Bukti nyata yang menunjukkan bagaimana obesitas dapat meningkatkan resiko kanker memang belum di temukan. Namun, diduga hal itu berhubungan dengan meningkatnya produksi estrogen dan hormon lain yang menjadi penyebab kanker usus. “obesitas akan membuat tubuh memproduksi lebih banyak hormon yang dapat memancing pertumbuhan tumor. 

Orang yang memiliki perut buncit juga mempunyai lebih banyak asam di dalam perutnya, sehingga mungkin saja bisa memicu kanker perut, intestine, atau esophagus,” ungkap Prof. Sidarta yang juga merupakan Ketua Pengurus Besar Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA)

Fatty Liver

Penyakit lain yang disebabkan oleh akibat perut yang buncit atau obesitas adalah fatty liver. Fatty liver terjadi disebabkan oleh lemak yang berlebih menumpuk di dalam sel liver atau hati. Sebenarnya merupakan hal yang normal jika muncul lemak di hati, tapi jumlahnya tidak melebihi 10% dibandingkan dengan berat hati itu sendiri. Apabila jumlahnya sudah melewati batas, itulah tanda- tanda hati mengalami gejala muncul lemak. Jika tidak segera di atasi, mungkin saja berakibat komplikasi yang serius. “Lama - kelamaan hati akan diselimuti lemak. 

Biasanya kita tidak tahu bahwa menderita fatty liver dan baru tahu saat melakukan pemeriksaan medical check up lengkap rutin atau saat melakukan pemeriksaan karena penyakit lain,” jelas Prof. Sidarta. Liver adalah organ tubuh yang berfungsi untuk memproduksi enzim dan hormon, terkait dalam proses metabolisme semua bahan yang masuk dalam tubuh atau badan dan untuk mengatur cairan tubuh. Oleh sebab itu, gangguan kerja liver karena timbunan lemak dapat berakibat fatal.

Kolesterol

Tingginya kadar lemak dalam tubuh terutama lemak viceral, dengan begitu tingkat kolesterol jahat Kamu akan naik dan dapat menyebabkan Kamu terkena penyakit kolesterol.

Hipertensi

Jika Kamu terjangkit kolesterol, maka kemungkinan besar ancaman hipertensi atau tekanan darah tinggi juga mengincar Kamu. Hal ini disebabkan lemak memaksa darah untuk memompa lebih banyak yang dapat berakibat dengan baiknya tekanan darah.

Lemak dalam perut yang buncit mampu memicu perubahan angiotensin. angiotensin merupakan hormon yang menyebabkan stroke. Oleh karena itu untuk menghindari terjadinya stroke, maka Kamu butuh berolahraga untuk mendapatkan perut yang rata kembali dan berat badan yang ideal.

Sakit punggung

Menumpuknya lemak di perut ternyata berkaitan dengan penyebab sakit punggung. Karena saat lemak menumpuk, maka otot perut menjadi semakin lemah. Sehingga otot - otot di sekitarnya akan membantu untuk menopang perut Kamu, begitu pula dengan otot punggung. Itulah mengapa mereka yang berperut buncit sering mengalami sakit punggung atau sakit pinggang.

Dari penjelasan diatas ternyata perut buncit mampu menimbulkan berbagai macam ancaman penyakit. Jadi, jika Kamu memiliki perut yang buncit, segerakan berolahraga dan mengkonsumsi makanan yang kaya serat yang mampu membuat perut Kamu rata kembali.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel